#TM6.THU.121017.PERKEMBANGAN LOGISTIK STREET IND AFTER 1978
NAMA : SINDI SHABRINA
NIM :170505031061
Operasi Logistik
Manajemen logistik adalah unik karena ia merupakan salah satu aktivitas perusahaan yang tertua tetapi juga termuda. Aktivitas logistik (lokasi, fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi, dan pengurusan & penyimpanan) telah dilaksanakanorang semenjak awal spesialisasi komersil.
Baharunya logistik adalah berasal dari pendekatan yang sama sekali berbeda dan terpadu terhadap manajemen yang mulai muncul selama tahun 1950-an. Logistik modern dapat didefinisikan sebagai:
Proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplaier, diantara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para langganan.
Tujuan logistik adalah menyampaikan barang jadi dan bermacam macam material dlam jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai, ke lokasi dimana ia dibutuhkan, dan dengan total biaya yang terendah.
Penyelenggaraan logistik memberikan kegunaan (utility) waktu dan tempat. Nilai dalam bentuk tersedianya barang pada waktunya yang ditambahkan kepada material atau produk adalah suatu hasil dari proses logistik.Walaupun sulit untuk mengukurnya dengan persis, namun pengeluaran logistik Amerika Serikat pertahun lebih dari 20% dari total PNB-nya. Dengan perkataan lain, untuk setiap triliyun PNB, rekening logistik nasional lebih dari $200 juta per tahun.
Untuk mencapai arus produk yang teratur ke pasar, manajer haruslah memperhatikan desain dari sistem logistiknya, dan kemudian barulah operasinya.o Oleh karena itu tanggung jawab manajemen logistik, dapat diartikan sebgai:
Tanggungjawab manajerial mendesain dan mengurus suatu sistem untuk mengawasi arus dan penyimpanan yang strategis bagi material, suku cadang dan barang jadi agar dapat dipeeroleh manfaat maksimum bagi perusahaan.
Sasaran penyelenggaraan logistik adalah mencapai level sokongan manufakturing pemasaran yang telah ditentukan sebelumnya dengan total biaya yang semurah mungkin. Ciri utama logistik adalah integrasi berbagai dimensi dan tautan terhadap pemindahan (movement) dan penyimpanan (storage) yang strategis.
KE ARAH LOGISTIK TERPADU.
Sebelum tahun 1950, perusahaan-perusahaan biasanya menangani proses manajemen logistik secara terpisah - pisah.
Sejak awal Revolusi Industri, kemampuan bangsa kita untuk membuat (produce) dan memasarkan barang secara masal, jauh melampaui kemampuan kita untuk mendistribusikannya secara masal. Prioritas pemasaran modern adalah (1) Pengembangan barang merek yang luas, (2) menjual produk produk yang identik melalui berbagai saluran pemasaran dan jenis pngecer yang berbeda beda, (3) penawaran yang luas untuk produk berikut dan jasa-jasa yang digabungkan untuk menciptakan kebutuhan bagi pendekatan yang baru dan murah untuk memberikan sokongan fisik bagi pemasaran. Di bawah ini adalah kutipan dari pidato almarhum Paul D. Converse tahun 1954 yang membeikan penilaian umum terhadap situasi yang terdapat selama awal tahun 1950-an.
..... Dalam pengkajian terhadap pemasaran dan operasi departemen dan bisnis pemasaran, jauh lebih banyak perhatian ditunjukkan kepada pembelian dan penjualan dibandingkan dengan kepada penyelenggaraan fisiknya.
..... Masalah distribusi fisik terlalu sering dikesampingkan sebagai hal yang kurang penting.
Pengabaian dan kemudia terlambatnya perkembangan logistik secara logis dapat disebabkan oleh sekurang-kurangnya 2 faktor utama. Pertama, sebelum populernya komputer dan luasnya tersedia teknik-teknik kwantitatif, tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa perpaduan menyeluruh aktifitas- aktifitas logistik akan dapat memperbaiki prestasinya.
Kekuatan besar kedua yang mendorong perubahan praktek praktek tradisional adalah iklim perekonomian yang lama tidak menentu. Menciutnya laba pada awal tahun 1950-an, yang ditandai oleh resesi telah menciptakan lingkungan manajerial yang subur bagi pengembangan perbaikan pengawasan biaya. Logistik terpadu memberikan tanah yang subur bagi pencapaian pengurangan biaya ini.
1956 - 1965 : Dawarsa kristalisasi
Periode 1956 - 1965 adalah dawarsa kristalisasi konsep logistik terpadu setelah bertahun - tahun lamanya relatif kabur adanya. Empat perkembangan besar menunjang kristalisasi yaitu : (1) perkembangan analisa total biaya, (2) perkembangan pendekatan sistem, (3) meningkatnya perhatian bagi pelayanan pada nasabah, dan (4) perbaikan perhatian terhadap pengaturan saluran distribusi. Di bawah ini adalah pembahasan ringkas masing-masing perkembangan tersebut.
perkembangan analisa total biaya. Dalam tahun 1956, suatu studi khusus mengenai ekonomi-angkutan-udara telah memberika suatu konsep terpadu yang baru. Ia merupakan usaha untuk menjelaskan alasan ekonomis bagi tingginya biaya transport udara. Total biaya dikemukakan sebagai suatau ukuran dari seluruh pengeluaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu misi logistik.
Konsep total biaya ini walaupun bersifat mendasar, namun belum pernah sebelumnya diterapkan pada ekonomi logistik. Maka akibatnya adalah meningkatnya perhatian kepada penilaian total dari biaya masalah logistik.
Perkembangan pendekatan sistem. Sulit untuk menelusuri asal usul yang sebenarnya dari pendekatan sistem ini. Sementara nalisa total biaya memberikan metode untuk menilai kombinasi-kombinasi alternatif dari aktivitas logistik.
Logistik terpadu ini menciptakan suatu kebuttuhan baru untuk kompromi, misalnya, mnufakturing menghendaki produksi yang berjalan terus dan biaya perolehan (procurement cost) yang rendah. Mengenai pemasaran, tradisi lebih menyukai pengadaan persediaan barang jadi dengan jenis-jenis produk yang luas dalam pasar berjangka (forward markets).
Meningkatnya perhatian terhadap pelayanan bagi nasabah. Untuk menunjang rencana pemasaran atau operasi manufakturing, dapat digunakan beberapa sistem logistik yang berbeda beda. Untuk mengembangkan suatu sistem logistik yang efektif yan efisien, maka hubungan antara biaya dengan pelayanan haruslah dinilai secara serentak. Tugas manajemen adalah mengembangkan suatu operasi logistik yang mampu mencapai prestasi pelayanan yang dibutuhkan dengan total biaya yang serendah mungkin.
Perbaikan perhatian terhadap pengaturan saluran distribusi. Sebuah aspek lagi yang penting mengenai logistik ini dari tahun 1956 sampai 1965 adalah mengenai pengaturan saluran secara keseluruhannya. Banyak pehatian ditunjukkan kepada pengakuan bahwa aktifitas dan tanggungjawab logistik itu jarang yang berhenti pada sudut kepemilikan saja.
Hadapan antara dua atau lebih sistem logistik dapat menyebabkan timbulnya biaya yang berlebihan dan rusaknya pelayanan terhadap nasabah. Pendekatan fungsional yang dikemukakannya dapat menghidupkan kembali, memperluas, dan memperbaharui sumbangan-sumbangan sarjana pemasaran dahulu mengenai hubungan risiko dengan tingkat komitmen yang maju dalam operasi logistik.
Dalam tahun 1958, Forrester memperkenalkan analisa hhubungan-hubungan saluran yang dinamis. Dilihat dari arus isiknya, Forrester melukiskan dampak informasi yang luas terhadap fluktuasi dan akumulasi persediaan (inventory). Integrasi waktu dan lokasi memberikan pendekatan yang lebih berimbang terhadap logistik yang ikut memperhitungkan integrasi ruang dan waktu.
Perkembangan alat-alat analisa yang canggih dan komputer berkecepatan tinggi, telah memberikan kemampuan bagi perbaikan operasi logistik. Disamping itu, iklim ekonomi pada periode itu pun mendorong penurunan biaya. Hasilnya adalah suatu dasawarsa kristalisasi konsep logistik terpadu.
Walaupun banyak faktor yang berpengaruh khusus. Pertama, perkembangan analisa total biaya. Yang kedua adalah penerapan teknologi sistem. Faktor yang ketiga adalah semakin besarnya realisasi aktivitas logistik yang ternyata dapat merangsang peningkatan penghasilan sebagai akibat dari prestasi pelayanan terhadap nasabah. Akhirnya perkembangan logistik juga dibantu oleh meningkatnya kesadaran akan pentingnya waktu (timing), resiko, dan komitmen sumber daya logistik dalam keseluruhan saluran distribusi.
1965 - 1970 : Periode pengujian terhadap Relevansi.
Pada pertengahan tahun 1960-an, para menejer logistik telah mendapatkan suatu pendekatan yang walaupun agak terpisa-pisah, namun secara teoritis adalah sehat yang dapat menuntunnya dalam pembuatan perencanaan.Hasilnya adalah manfaat yang diramalkan itu telah menjadi kenyataan dan konsep logistik telah lulus dalam ujian waktu. Di dalam suatu perusahaan, biasanya perhatian mula-mula dicurahkan kepada salah satu dari dua aspek operasi utama dari sitem logistik.
Dari sudut pemasaran, manajemen distribusi fisik muncul sebagai pendekatan terpadu terhadap gerakan (movement) barang jadi. Sebaliknya, manajemen material berkembang sebagai aplikasi untuk perolehan (procurement) dan manufakturing.
1970 - 1978 : Periode perubahan prioritas.
Tahun 1970 sampai 1978 merupakan periode ketidak tentuan yang berkepanjangan dalam hampir setiap aktivitas perusahaan. Untuk pertama kalinya sejak perang Dunia II, persediaan energi menjadi masalah yang kritis. Logistik menghadapi kebutuhan yang mendesak untuk memperbaiki produktivitas energi, sebab aktifitas transportasi dan penyimpanan adalah konsumen yang paling banyak dan paling nyata memerlukan energi. Sekali lagi aktivitas logistik berada pada barisan atas dalam sumber potensi yang menimbulkan pencemaran lingkungan (environmental pollution).
Pada awal tahun 1970-an, perekonomian Amerika Serikat merosot ke dalam resesi yang dalam, di mana pengangguran mencapai puncaknya yang dilampaui oleh Depresi Besar (Great Depression). Resesi awal tahu 1970-an ini menimbulkan situasi yang diberi istilah 'stagflation'.
Periode 8 tahun ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan penyelenggaraan konsep konsep logistik. Hasilnya adalah pesatnya kemajuan profesional manajemen material. Sementara profesi distribusi fisik tumbuh dari potensi konsep pemasaran, profesi manajeman material menjadi dewasa karena pengaruh terputusnya suplai. Sebagai gantinya lahirlah suatu orientasi sistem baru yang berdasarkn gerakan berjarak waktu (time-phased movement) dan komitmen jangka panjang. Dengan perkataan lain, manajemen mulai merumuskan rencana sekitar pemeliharaan manufakturing dan pengolahan (processing) dan bukan merencanakan operasi untuk bereaksi terhadap kebutuhan pasar.
Dilihat dari sudut teknologi, awal tahun 1970-an merupakan salah satu periode riset dan pengembangan model komputer yang paling subur (prolific) bagi desain dan kontrol sistem logistik. Kejadian - kejadian dalam periode ini juga meningkatkan kesadaran bahwa masalah-masalah logistik seringkali mempunyai dasar organisasi dan institusional, dan bukan hanya dasar teknis saja.
Akhirnya dampak terbesar dari periode ini barangkali adalah institusionalisasi berbagai aspek logistik dalam struktur organisasi dari perusahaan swasta dan perushaan negaran yang tak terbilang banyaknya. Konsep logistik terpadu memberikan alat untuk mengatasi ketidaktentuan ini.
Sesudah 1978 : Ke arah Logistik Terpadu
Dawarsa mendatang memberikan prospek hasil yang bahkan lebih besar lagi dari pelaksanaan penuh manajemen logistik. Tantangan bagi masa depan adalah untuk mengintegrasikan kerumitan distribusi fisik itu dengan operasi manajemen material. Satu satunya prospektif yang relevant adalah yang mengutamakan tercapainya sasaran perusahaan. Tantangan utama bagi masa depan adalah mengembangkan suatu logika tunggal untuk menuntun secara teratur, penyimpanan dan arus persediaan barang yang efisien dari sumber material, ke kompleks manufakturing, terus ke saluran distribusi, dan sampai kepada nasabah. Manajemen logistik memiliki logika yang demikian dan makin lama makin menjadi lebih lazim, sekurang kurangnya karena 5 alasan.
Alasan pertama adalah besarnya saling ketergantungan antara kedua bidang operasional itu yang dapat diusahakan untuk kemanfaatan perusahaan. Prospektif sistem total pergerakan/penyimpanan memberikan imbalan dan potensi sinergistik yang lebih besar. Misalnya, siatuasi backhaul (hasil balik) akan diperoleh, bila peralatan transport yang dipakai untuk mengantarkan barang kepada langganan, dapat pula dipakai untuk mengangkut barang barang yang dibeli. Menghadapi biaya tenaga kerja yang terus meningkat, para manajer logistik haruslah mengembangkan metode- metode untuk menggantikan prosesyang padat modal dengan proses yang padat tenaga kerja. Operasi logistik adalah bagian yang paling padat tenga kerja dlam suatu perusahaan. integrasi lengkap antara distribusi fisik dengan manajemen material akan meningkatkan kemungkinan tercapainya penggantian (substitution) modal dengan tenaga kerja.
Alasan kedua untuk menyokong logistik terpadu adalah bahwa konsep distribusi fisik & manajemen material yang sempit itu besar kemungkinan menimbulkan keadaan yang negatif atau gangguan gangguan. Kemajuan salah satu daripadanya sebagai suatu filsafat yang dominan dari manajemen logistik akan menimbulkan potensi bagi sub optimisasi yang klasik.
Alasan yang ketiga untuk mengintegrasikan aktivitas distribusi fisik dengan manajemen mateial adalah bahwa kebutuhan pengawasan untuk masing masing jenis operasai ini adalah sama.
Alasan yang keempat bagi integrasi operasi operasi logistik adalah meningkatnya kesadaran bahwa banyak saling imbal (trade offs) terdapat diantara ekonomi manufakturing dengan kebutuhan pemasaran yang dapat dirujukkan oleh suatu sistem logistik yang dirancang dengan baik.
NIM :170505031061
1.) Sejarah Logistik : Perkembangan | Potensi di Indonesia
Wawasan mengenai sejarah logistik sampai perkembangannya terutama di Indonesia akan kami kupas secara detail dan bagaimana sejarah logistik berpengaruh terhadap pesatnya potensi bisnis pengiriman barang dari dalam maupun luar negeri hingga kini. Apabila saat ini anda adalah salah satu pribadi yang menyukai aktifitas jual beli online pastinya tak lepas dari yang namanya logistik itu sendiri, jadi sangat penting peran sejarah logistik dan perkembangan di indonesia perlu kami informasikan secara mendalam dan akurat dari berbagai sumber terpercaya.
Kami telah membaca referensi dari wikipedia mengenai apa itu logistik dan bagaimana sejarah logistik pada masa lampau, berikut penjelasannya:
“Kata logistik berasal dari bahasa Yunani yaitu logos (λόγος) yang berarti “rasio, kata, kalkulasi, alasan, pembicaraan, orasi”. Kata logistik sendiri memiliki asal kata dari Bahasa Perancis loger yaitu untuk menginapkan atau menyediakan. Kegunaan asalnya untuk menjelaskan ilmu dari pergerakan, suplai & perawatan dari pasukan militer di lapangan. Nantinya digunakan untuk mendeskripsikan manajemen arus barang di sebuah organisasi, dari barang mentah menjadi barang jadi.
Logistik adalah konsep yang dianggap berevolusi dari kebutuhan pihak militer untuk memenuhi persediaan mereka ketika mereka beranjak ke medan perang dari markas. Pada kekaisaran Yunani, Romawi dan Bizantium kuno, ada perwira militer dengan gelar ‘Logistikas’, yang bertanggung jawab atas distribusi dan pendanaan persediaan perang.
Oxford English Dictionary mendeskripsikan logistik sebagai “the branch of military science relating to procuring, maintaining and transporting materiel, personnel and facilities.” Definisi lainya adalah “the time-related positioning of resources.” Maka dari itu, logistik biasanya dilihat sebagai cabang umum dari ilmu teknik yang membuat “sistem manusia” bukan “sistem mesin”.
Dalam arti yang luas, ruang lingkup manajemen logistik melibatkan segala sesuatu yang bergerak ke, dari, dan di antara fasilitas operasi suatu perusahaan. Oleh karena itu, tanggung jawab manajemen logistik adslah untuk merancang dan mengelola suatu sistem untuk mengontrol aliran dan strategis penyimpanan bahan, bagian dan barang jadi untuk keuntungan maksimum perusahaan.
Tujuan dari kinerja logistik adalah untuk mencapai tingkat yang telah ditetapkan pasar manufaktur pada pengeluaran total biaya rendah. Manajer logistik memiliki tanggung jawab yang mendasar untuk merencanakan dan mengelola sebuah sistem operasi yang mampu mewujudkan tujuan ini.
1970 – 1978 Periode Perubahan Prioritas
Pada tahun 1970-1978 adalah periode ketidakpastian berkepanjangan di hampir setiap kegiatan perusahaan. Untuk pertama kalinya sejak perang dunia 2, persediaan energi menjadi kritis. Kekurangan energi ditambah dengan kenaikan harga bahan bakar dan minyak menjadi kekhawatiran.
Logistik menghadapi kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas energi karena terlibat dalam kegiatan transportasi dan penyimpanan antara konsumen energi terbesar dan paling terlihat. Manajemen logistik mulai membuat rencana pemeliharaan manufaktur dan pengolahan bahan. Ekologi menjadi perhatian utama sejak krisis energi. Peringkat tertinggi diantara potensi sumber utama dalam kegiatan logistik yaitu pencemaran udara.
Logistik menghadapi kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas energi karena terlibat dalam kegiatan transportasi dan penyimpanan antara konsumen energi terbesar dan paling terlihat. Manajemen logistik mulai membuat rencana pemeliharaan manufaktur dan pengolahan bahan. Ekologi menjadi perhatian utama sejak krisis energi. Peringkat tertinggi diantara potensi sumber utama dalam kegiatan logistik yaitu pencemaran udara.
Dampak yang paling signifikan dari periode ini adalah aspek logistik menjadi dikenal, dihargai dan diakui dalam struktur organisasi perusahaan swasta dan publik yang tak terhitung jumlahnya. Konsep-konsep yang telah terbukti menjadi kontributor layak pencapaian tujuan perusahaan. Konsep terpadu logistik menyediakan sarana untuk mengatasi ketidakpastian dengan positif.
Melewati 1978 Menuju Logistik yang Terintegritas
Beberapa dekade ke depan menawarkan prospek pembayaran lebih besar dari implementasi penuh dari manajemen logistik. Dalam retrospeksi, beberapa kebutuhan penting yang mendorong kekhawatiran bahan yang berlebihan tidak banyak.
Beberapa dekade ke depan menawarkan prospek pembayaran lebih besar dari implementasi penuh dari manajemen logistik. Dalam retrospeksi, beberapa kebutuhan penting yang mendorong kekhawatiran bahan yang berlebihan tidak banyak.
Manajemen logistik terpadu memberikan logika dan menjadi lebih umum dengan 5 alasan, yaitu :
Pertama, saling ketergantungan antara kedua wilayah operasional yang dapat dimanfaatkan untuk keuntungan perusahaan.
Kedua, pendukung logistik terpadu adalah bahwa konsep sempit distribusi fisik dan bahan manajemen membuat terjadinya potensi antarmuka negatif atau disfungsional.
Ketiga, untuk mengintegrasikan kegiatan distribusi fisik dan manajemen bahan adalah persyaratan kontrol untuk setiap jenis atau operasi serupa.
Keempat, integrasi operasional logistik adalah peningkatan kesadaran bahwa ada banyak trade-off antara manufaktur ekonomi dan pemasaran persyaratan yang didamaikan oleh sistem logistik yang dirancang dengan baik.
Kelima, dan mungkin yang paling signifikan, alasan logistik terintegrasi adalah bahwa kebutuhan hari ini dan besok, misi logistik tidak lagi dapat mengalahkan perkembangan teknologi hardware asli.
Hasil dari lima alasan diatas adalah, bidang logistik akan terus dikelola secara terintegrasi. Dalam teks ini ditulis pada asumsi bahwa integrasi penuh dari semua sistem operasi logistik terkait ke dalam salah satu upaya yang sangat terkoordinasi yang akan terwujud.
source: http://kuliahlogistik. com/sejarah-logistik/
Pertama, saling ketergantungan antara kedua wilayah operasional yang dapat dimanfaatkan untuk keuntungan perusahaan.
Kedua, pendukung logistik terpadu adalah bahwa konsep sempit distribusi fisik dan bahan manajemen membuat terjadinya potensi antarmuka negatif atau disfungsional.
Ketiga, untuk mengintegrasikan kegiatan distribusi fisik dan manajemen bahan adalah persyaratan kontrol untuk setiap jenis atau operasi serupa.
Keempat, integrasi operasional logistik adalah peningkatan kesadaran bahwa ada banyak trade-off antara manufaktur ekonomi dan pemasaran persyaratan yang didamaikan oleh sistem logistik yang dirancang dengan baik.
Kelima, dan mungkin yang paling signifikan, alasan logistik terintegrasi adalah bahwa kebutuhan hari ini dan besok, misi logistik tidak lagi dapat mengalahkan perkembangan teknologi hardware asli.
Hasil dari lima alasan diatas adalah, bidang logistik akan terus dikelola secara terintegrasi. Dalam teks ini ditulis pada asumsi bahwa integrasi penuh dari semua sistem operasi logistik terkait ke dalam salah satu upaya yang sangat terkoordinasi yang akan terwujud.
source: http://kuliahlogistik.
2.) Periode sesudah 1978 : Ke arah
Logistik Terpadu
Dasawarsa mendatang memberikan prospek hasil yang bahkan lebih
besar lagi dari pelaksanaan penuh manajemen logistki.Jika kita tinjau
kembali,beberapa dari kebutuhan yang kritis yang merangsang keprihatinan
material tersebut memang dilebih-lebihkan,tetapi banyak yang tidak.Tantangan
bagi masa depan adalah untuk mengintegrasikan kerumitan distribusi fisik itu
dengan operasi manajemen material.
Manajemen logistic terpadu memberikan logika yang demikian dan
makin lama makin menjadi lebih lazim ,sekurang-kurangnya karena 5 alasan.
1. Alasan yang pertama adalah besarnya saling
ketergantungan antara kedua bidang operasional itu yang dapat diusahakan untuk
kemanfaatan perusahaan.Perspektif system total pergerakan/penyimpanan
memberikan imbalan dan potensi sinergistik yang lebih besar .Potensi untuk
pengintegrasian ini meliputi aktivitas yang jauh lebih besar daripada jika
distribusi fisik atau manajemen material itu kita tinjau sendirian.
2. Alasan kedua adalah untuk menyokong logistic
terpadu adalah bahwa konsep distribusi fisik dan manajemen material yang sempit
itu besar kemungkinan menimbulkan kedaan yang negative atau gangguan-gangguan
.Kedua konsep ini sangat memberikan prioritas operasional pada sebagai suatu
filsafat yang dominan dari manajemen logistik akan menimbulkan potensi bagi
suboptimisasi yang klasik.
3. Alasan ketiga adalah untuk mengintegrasikan
aktivitas distribusi fisik dengan manajemen material adalah bhwa kebutuhan
pengawasan untuk masing-masing jenis operasi ini adalah sama .Pengawasan yang
demikian dalam buku ini disebut sebagai koordinasi logistik (logistical
coordination). Tujuan dari koordinasi logistic adalah untuk merujukkan
(reconcile) permintaan-permintaan operasional yang berbeda-beda itu pada
distribusi dan manajemen material.
4. Alasan ke empat adalah bagi integrasi
operasi-operasi logistik adalah meningkatnya kesadaran bahwa banyak saling
imbal (trade offs) terdapat di antara ekonomi manufacturing dengan kebutuhan
pemasaran yang dapat dirujukkan oleh suatu system logistik yang dirancang
dengan baik. Pola yang dominan dari manufacturing adalah untuk menghasilkan
produk dalam berbagai ukuran ,warna,dan kwantitas untuk menghadapi penjualan
yang akan datang.Penundaan perakitan (assembling) .
5. Alasan yang kelima dan barangkali yang
terpenting bagi logistik terpadu adalah bahwa kebutuhan akan misi logistik
sekarang dan di masa databg tidak lagi dapat dipenuhi oleh penyebaran
tekhnologi perangkat keras saja ( pure hardware technology ). Tantangan
dasawarsa mendatang adalah mengembangkan cara-cara baru untuk memenuhi
kebutuhan logistic ,bukan hanya melaksanakan cara0cara lama secara lebih
efisien .
Operasi Logistik
Aspek operasional logistic adalah mengenai
manajemen-manajemen pemindahan (movement) dan penyimpanan material dan produk
jadi perusahaan .Jadi,operasi logistic itu dapat dipandang sebagai berawal dari
penganguktan pertama material atau komponen-komponen dari sumber perolehannya
dan berakhir pada penyerahan produk yang dibuat atau diolah itu kepada
langganan atau konsumen. Proses manajemen distribusi fisik adalah menyangkut
pengangkutan produk kepada langganan. Dalam distribusi fisik,langganan
dipandang sebagai pemberhentian terakhir dalam saluran pemasaran .
Koordinasi Logistik
Koordinasi logistik adalah mengenai
identifikasi kebutuhan pergerakan dan penetapan rebcana untuk memadukan seluruh
operasi logistic. Koordinasi
4. Procurement atau perencanaan kebutuhan
material.
dibutuhkan untuk menetapkan dalam
mempertahankan kontinuitas operasi. Didalam ketiga bidang operasi logistic
ini,terdapat banyak pergerakan yang berbeda-beda ,dilihat dari
besarnya pesanan, tersedianya inventaris,dan urgensi pergerakan tersebut
.Fungsi utama dari koordinasi logistic adalah untuk merujukkan(reconcile)
perbedaan-perbedaan ini.
Koordinasi Logistik adalah menyangkut perencanaan dan pengawasan
terhadap masalah-masalah operasional.Koordinasi dibagi kedalam 4 bagian bidang
manajerial yaitu :
1. Peramalan(forecasting) pasar produk.
2. Pengolahan pesanan.
3. Perencanaan operasi
3.) MANAJEMEN LOGISTIK
Manajemen logistik adalah unik karena ia merupakan salah satu aktivitas perusahaan yang tertua tetapi juga termuda. Aktivitas logistik (lokasi, fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi, dan pengurusan & penyimpanan) telah dilaksanakanorang semenjak awal spesialisasi komersil.
Baharunya logistik adalah berasal dari pendekatan yang sama sekali berbeda dan terpadu terhadap manajemen yang mulai muncul selama tahun 1950-an. Logistik modern dapat didefinisikan sebagai:
Proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplaier, diantara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para langganan.
Tujuan logistik adalah menyampaikan barang jadi dan bermacam macam material dlam jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai, ke lokasi dimana ia dibutuhkan, dan dengan total biaya yang terendah.
Penyelenggaraan logistik memberikan kegunaan (utility) waktu dan tempat. Nilai dalam bentuk tersedianya barang pada waktunya yang ditambahkan kepada material atau produk adalah suatu hasil dari proses logistik.Walaupun sulit untuk mengukurnya dengan persis, namun pengeluaran logistik Amerika Serikat pertahun lebih dari 20% dari total PNB-nya. Dengan perkataan lain, untuk setiap triliyun PNB, rekening logistik nasional lebih dari $200 juta per tahun.
Untuk mencapai arus produk yang teratur ke pasar, manajer haruslah memperhatikan desain dari sistem logistiknya, dan kemudian barulah operasinya.o Oleh karena itu tanggung jawab manajemen logistik, dapat diartikan sebgai:
Tanggungjawab manajerial mendesain dan mengurus suatu sistem untuk mengawasi arus dan penyimpanan yang strategis bagi material, suku cadang dan barang jadi agar dapat dipeeroleh manfaat maksimum bagi perusahaan.
Sasaran penyelenggaraan logistik adalah mencapai level sokongan manufakturing pemasaran yang telah ditentukan sebelumnya dengan total biaya yang semurah mungkin. Ciri utama logistik adalah integrasi berbagai dimensi dan tautan terhadap pemindahan (movement) dan penyimpanan (storage) yang strategis.
KE ARAH LOGISTIK TERPADU.
Sebelum tahun 1950, perusahaan-perusahaan biasanya menangani proses manajemen logistik secara terpisah - pisah.
Sejak awal Revolusi Industri, kemampuan bangsa kita untuk membuat (produce) dan memasarkan barang secara masal, jauh melampaui kemampuan kita untuk mendistribusikannya secara masal. Prioritas pemasaran modern adalah (1) Pengembangan barang merek yang luas, (2) menjual produk produk yang identik melalui berbagai saluran pemasaran dan jenis pngecer yang berbeda beda, (3) penawaran yang luas untuk produk berikut dan jasa-jasa yang digabungkan untuk menciptakan kebutuhan bagi pendekatan yang baru dan murah untuk memberikan sokongan fisik bagi pemasaran. Di bawah ini adalah kutipan dari pidato almarhum Paul D. Converse tahun 1954 yang membeikan penilaian umum terhadap situasi yang terdapat selama awal tahun 1950-an.
..... Dalam pengkajian terhadap pemasaran dan operasi departemen dan bisnis pemasaran, jauh lebih banyak perhatian ditunjukkan kepada pembelian dan penjualan dibandingkan dengan kepada penyelenggaraan fisiknya.
..... Masalah distribusi fisik terlalu sering dikesampingkan sebagai hal yang kurang penting.
Pengabaian dan kemudia terlambatnya perkembangan logistik secara logis dapat disebabkan oleh sekurang-kurangnya 2 faktor utama. Pertama, sebelum populernya komputer dan luasnya tersedia teknik-teknik kwantitatif, tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa perpaduan menyeluruh aktifitas- aktifitas logistik akan dapat memperbaiki prestasinya.
Kekuatan besar kedua yang mendorong perubahan praktek praktek tradisional adalah iklim perekonomian yang lama tidak menentu. Menciutnya laba pada awal tahun 1950-an, yang ditandai oleh resesi telah menciptakan lingkungan manajerial yang subur bagi pengembangan perbaikan pengawasan biaya. Logistik terpadu memberikan tanah yang subur bagi pencapaian pengurangan biaya ini.
1956 - 1965 : Dawarsa kristalisasi
Periode 1956 - 1965 adalah dawarsa kristalisasi konsep logistik terpadu setelah bertahun - tahun lamanya relatif kabur adanya. Empat perkembangan besar menunjang kristalisasi yaitu : (1) perkembangan analisa total biaya, (2) perkembangan pendekatan sistem, (3) meningkatnya perhatian bagi pelayanan pada nasabah, dan (4) perbaikan perhatian terhadap pengaturan saluran distribusi. Di bawah ini adalah pembahasan ringkas masing-masing perkembangan tersebut.
perkembangan analisa total biaya. Dalam tahun 1956, suatu studi khusus mengenai ekonomi-angkutan-udara telah memberika suatu konsep terpadu yang baru. Ia merupakan usaha untuk menjelaskan alasan ekonomis bagi tingginya biaya transport udara. Total biaya dikemukakan sebagai suatau ukuran dari seluruh pengeluaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu misi logistik.
Konsep total biaya ini walaupun bersifat mendasar, namun belum pernah sebelumnya diterapkan pada ekonomi logistik. Maka akibatnya adalah meningkatnya perhatian kepada penilaian total dari biaya masalah logistik.
Perkembangan pendekatan sistem. Sulit untuk menelusuri asal usul yang sebenarnya dari pendekatan sistem ini. Sementara nalisa total biaya memberikan metode untuk menilai kombinasi-kombinasi alternatif dari aktivitas logistik.
Logistik terpadu ini menciptakan suatu kebuttuhan baru untuk kompromi, misalnya, mnufakturing menghendaki produksi yang berjalan terus dan biaya perolehan (procurement cost) yang rendah. Mengenai pemasaran, tradisi lebih menyukai pengadaan persediaan barang jadi dengan jenis-jenis produk yang luas dalam pasar berjangka (forward markets).
Meningkatnya perhatian terhadap pelayanan bagi nasabah. Untuk menunjang rencana pemasaran atau operasi manufakturing, dapat digunakan beberapa sistem logistik yang berbeda beda. Untuk mengembangkan suatu sistem logistik yang efektif yan efisien, maka hubungan antara biaya dengan pelayanan haruslah dinilai secara serentak. Tugas manajemen adalah mengembangkan suatu operasi logistik yang mampu mencapai prestasi pelayanan yang dibutuhkan dengan total biaya yang serendah mungkin.
Perbaikan perhatian terhadap pengaturan saluran distribusi. Sebuah aspek lagi yang penting mengenai logistik ini dari tahun 1956 sampai 1965 adalah mengenai pengaturan saluran secara keseluruhannya. Banyak pehatian ditunjukkan kepada pengakuan bahwa aktifitas dan tanggungjawab logistik itu jarang yang berhenti pada sudut kepemilikan saja.
Hadapan antara dua atau lebih sistem logistik dapat menyebabkan timbulnya biaya yang berlebihan dan rusaknya pelayanan terhadap nasabah. Pendekatan fungsional yang dikemukakannya dapat menghidupkan kembali, memperluas, dan memperbaharui sumbangan-sumbangan sarjana pemasaran dahulu mengenai hubungan risiko dengan tingkat komitmen yang maju dalam operasi logistik.
Dalam tahun 1958, Forrester memperkenalkan analisa hhubungan-hubungan saluran yang dinamis. Dilihat dari arus isiknya, Forrester melukiskan dampak informasi yang luas terhadap fluktuasi dan akumulasi persediaan (inventory). Integrasi waktu dan lokasi memberikan pendekatan yang lebih berimbang terhadap logistik yang ikut memperhitungkan integrasi ruang dan waktu.
Perkembangan alat-alat analisa yang canggih dan komputer berkecepatan tinggi, telah memberikan kemampuan bagi perbaikan operasi logistik. Disamping itu, iklim ekonomi pada periode itu pun mendorong penurunan biaya. Hasilnya adalah suatu dasawarsa kristalisasi konsep logistik terpadu.
Walaupun banyak faktor yang berpengaruh khusus. Pertama, perkembangan analisa total biaya. Yang kedua adalah penerapan teknologi sistem. Faktor yang ketiga adalah semakin besarnya realisasi aktivitas logistik yang ternyata dapat merangsang peningkatan penghasilan sebagai akibat dari prestasi pelayanan terhadap nasabah. Akhirnya perkembangan logistik juga dibantu oleh meningkatnya kesadaran akan pentingnya waktu (timing), resiko, dan komitmen sumber daya logistik dalam keseluruhan saluran distribusi.
1965 - 1970 : Periode pengujian terhadap Relevansi.
Pada pertengahan tahun 1960-an, para menejer logistik telah mendapatkan suatu pendekatan yang walaupun agak terpisa-pisah, namun secara teoritis adalah sehat yang dapat menuntunnya dalam pembuatan perencanaan.Hasilnya adalah manfaat yang diramalkan itu telah menjadi kenyataan dan konsep logistik telah lulus dalam ujian waktu. Di dalam suatu perusahaan, biasanya perhatian mula-mula dicurahkan kepada salah satu dari dua aspek operasi utama dari sitem logistik.
Dari sudut pemasaran, manajemen distribusi fisik muncul sebagai pendekatan terpadu terhadap gerakan (movement) barang jadi. Sebaliknya, manajemen material berkembang sebagai aplikasi untuk perolehan (procurement) dan manufakturing.
1970 - 1978 : Periode perubahan prioritas.
Tahun 1970 sampai 1978 merupakan periode ketidak tentuan yang berkepanjangan dalam hampir setiap aktivitas perusahaan. Untuk pertama kalinya sejak perang Dunia II, persediaan energi menjadi masalah yang kritis. Logistik menghadapi kebutuhan yang mendesak untuk memperbaiki produktivitas energi, sebab aktifitas transportasi dan penyimpanan adalah konsumen yang paling banyak dan paling nyata memerlukan energi. Sekali lagi aktivitas logistik berada pada barisan atas dalam sumber potensi yang menimbulkan pencemaran lingkungan (environmental pollution).
Pada awal tahun 1970-an, perekonomian Amerika Serikat merosot ke dalam resesi yang dalam, di mana pengangguran mencapai puncaknya yang dilampaui oleh Depresi Besar (Great Depression). Resesi awal tahu 1970-an ini menimbulkan situasi yang diberi istilah 'stagflation'.
Periode 8 tahun ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan penyelenggaraan konsep konsep logistik. Hasilnya adalah pesatnya kemajuan profesional manajemen material. Sementara profesi distribusi fisik tumbuh dari potensi konsep pemasaran, profesi manajeman material menjadi dewasa karena pengaruh terputusnya suplai. Sebagai gantinya lahirlah suatu orientasi sistem baru yang berdasarkn gerakan berjarak waktu (time-phased movement) dan komitmen jangka panjang. Dengan perkataan lain, manajemen mulai merumuskan rencana sekitar pemeliharaan manufakturing dan pengolahan (processing) dan bukan merencanakan operasi untuk bereaksi terhadap kebutuhan pasar.
Dilihat dari sudut teknologi, awal tahun 1970-an merupakan salah satu periode riset dan pengembangan model komputer yang paling subur (prolific) bagi desain dan kontrol sistem logistik. Kejadian - kejadian dalam periode ini juga meningkatkan kesadaran bahwa masalah-masalah logistik seringkali mempunyai dasar organisasi dan institusional, dan bukan hanya dasar teknis saja.
Akhirnya dampak terbesar dari periode ini barangkali adalah institusionalisasi berbagai aspek logistik dalam struktur organisasi dari perusahaan swasta dan perushaan negaran yang tak terbilang banyaknya. Konsep logistik terpadu memberikan alat untuk mengatasi ketidaktentuan ini.
Sesudah 1978 : Ke arah Logistik Terpadu
Dawarsa mendatang memberikan prospek hasil yang bahkan lebih besar lagi dari pelaksanaan penuh manajemen logistik. Tantangan bagi masa depan adalah untuk mengintegrasikan kerumitan distribusi fisik itu dengan operasi manajemen material. Satu satunya prospektif yang relevant adalah yang mengutamakan tercapainya sasaran perusahaan. Tantangan utama bagi masa depan adalah mengembangkan suatu logika tunggal untuk menuntun secara teratur, penyimpanan dan arus persediaan barang yang efisien dari sumber material, ke kompleks manufakturing, terus ke saluran distribusi, dan sampai kepada nasabah. Manajemen logistik memiliki logika yang demikian dan makin lama makin menjadi lebih lazim, sekurang kurangnya karena 5 alasan.
Alasan pertama adalah besarnya saling ketergantungan antara kedua bidang operasional itu yang dapat diusahakan untuk kemanfaatan perusahaan. Prospektif sistem total pergerakan/penyimpanan memberikan imbalan dan potensi sinergistik yang lebih besar. Misalnya, siatuasi backhaul (hasil balik) akan diperoleh, bila peralatan transport yang dipakai untuk mengantarkan barang kepada langganan, dapat pula dipakai untuk mengangkut barang barang yang dibeli. Menghadapi biaya tenaga kerja yang terus meningkat, para manajer logistik haruslah mengembangkan metode- metode untuk menggantikan prosesyang padat modal dengan proses yang padat tenaga kerja. Operasi logistik adalah bagian yang paling padat tenga kerja dlam suatu perusahaan. integrasi lengkap antara distribusi fisik dengan manajemen material akan meningkatkan kemungkinan tercapainya penggantian (substitution) modal dengan tenaga kerja.
Alasan kedua untuk menyokong logistik terpadu adalah bahwa konsep distribusi fisik & manajemen material yang sempit itu besar kemungkinan menimbulkan keadaan yang negatif atau gangguan gangguan. Kemajuan salah satu daripadanya sebagai suatu filsafat yang dominan dari manajemen logistik akan menimbulkan potensi bagi sub optimisasi yang klasik.
Alasan yang ketiga untuk mengintegrasikan aktivitas distribusi fisik dengan manajemen mateial adalah bahwa kebutuhan pengawasan untuk masing masing jenis operasai ini adalah sama.
Alasan yang keempat bagi integrasi operasi operasi logistik adalah meningkatnya kesadaran bahwa banyak saling imbal (trade offs) terdapat diantara ekonomi manufakturing dengan kebutuhan pemasaran yang dapat dirujukkan oleh suatu sistem logistik yang dirancang dengan baik.
Alasan yang kelima dan barang kali yang terpenting bagi logistik terpadu adalah bahwa kebutuhan akan misi logistik sekarang dan akan datang tidak lagi dapat dipenuhi oleh penyebaran teknologi perangkat keras saja (pure hardware technology).
Sebagai hasil dari 5 alasan tersebut di atas, maka lapangan logistik telah dan akan terus harus dikelola secara terpadu.
Sebagai hasil dari 5 alasan tersebut di atas, maka lapangan logistik telah dan akan terus harus dikelola secara terpadu.
Komentar
Posting Komentar